Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Sudah Berakhir

Aku tidak bermaksud membencimu.  Juga tidak pernah berniat untuk dendam kepadamu.  Aku hanya membenci diriku ketika tiap kali bertemu kamu masih menyimpan rasa di dada.  Aku masih saja tak mampu menatap matamu sebagai mata orang lain.  Aku masih saja tidak bisa bicara kepadamu dengan nada suara untuk orang lain.  Itulah mengapa setiap kali bertemu kamu, aku selalu memperpendek waktu.  Aku memilih mencari alasan.  Memilih berbohong kepadamu agar pertemuan kita tidak berlangsung lama. Setiap kali bertemu kamu lagi, aku selalu memperbaiki raut wajah berkali-kali.  Memasang mimik muka yang pas sebagai orang asing.  Mencari nada suara yang pas sebagai orang lain. ltulah alasan mengapa setiap kali bertemu kamu, aku lebih banyak memalingkan muka.  Aku lebih banyak diam daripada bicara.  Karena, setiap kali kamu menatapku, setiap kali kamu membalas ucapanku, aku harus berkali-kali menekankan kepada hatiku.  Aku tidak akan mengulangi j...

Suatu Hari

Dan suatu hari kau akan tau, aku manusia yg selalu siap menunggumu pulang dari rasa sakit yg kau dapatkan.  Aku akan selalu siap menyediakan bahuku, hanya untuk membuatmu kembali pulih.  Meski, mungkin saja kau akan melakukan kesalahan yg sama.  Tak mengapa, karena aku hanyalah ingin mencintaimu sewajarnya, meski kadang aku merasa lukanya tak wajar untuk kurasakan.

Cukup Lukanya Cukup

Setelah apa yang pernah aku alami.  Setelah semua perasaan sakit aku lalui.  Aku mengerti, aku memang tidak akan pernah ingin kamu kembali. Meski sejujurnya, di hatiku selain masih ada luka, tetap saja ada cinta. Perasaan yang terlalu susah untuk habis kepadamu.  Berkali-kali aku membunuhnya, berkali lipat ia tumbuh di dada.  Hal yang akhirnya membuatku tidak ingin bertemu kamu lebih sering lagi.  Hal yang akhirnya membuat aku memilih menghindari apa saja yang berkaitan dengan kamu.  Sebab, saat kamu memilih pergi waktu itu, separuh jiwaku hancur tak menentu.  Aku seperti orang gila yang belum sepenuhnya gila. Saat aku sudah mulai mencintai diriku. Sungguh, aku tidak ingin lagi ada kamu. Cukup, lukanya, cukup!

Jangan Ingatkan

Tidak apa, kamu pergi saja  Aku memang tidak terlalu yakin dapat melupakanmu  Semua kehangatan pada senyummu  Semua yang ada pada kamu  Aku tidak yakin jika ingatanku mampu menghapusmu sepenuhnya  Tapi kamu harus tau  Jika nanti aku benar-benar lupa tentang kamu  Jangan ingatkan bahwa aku pernah mengagumimu dengan sangat Teruntuk kamu, yang sedang berusaha aku lupakan  Tunggu dan lihat saja  Aku akan benar-benar baik-baik saja tanpamu  Dan selamat! Kamu benar-benar kehilangan cinta yang begitu besar

Sesal Tiada Arti

Kalau nanti kamu menyadari bahwa kamu membutuhkanku  Setelah aku jauh melangkah sebab abaimu  Setelah usaha yang aku perjuangkan tidak kamu hargai  Maka, nikmatilah sesal itu sendiri  Kamu juga harus paham  Tidak semua yang bersikeras tidak bisa lelah Tidak semua yang diabaikan tidak akan menyerah Aku hanya manusia Aku juga butuh kamu berikan perlakuan yang sama Saling memperjuangkan Bukan hanya kamu saja yang ingin dimenangkan

Belajar Melepasmu

Akhirnya aku belajar melepasmu, bukan karena aku tidak lagi mencintaimu. Bukan juga karena sayangku sudah habis di dalam hati. Namun, aku sadar, mencintaimu sendirian bukanlah cinta yang wajar. Aku dibunuh debar-debar dada dan kecemasan akan kenangan berselimut luka. Itulah mengapa aku belajar melepasmu. Sebab, aku tahu cinta terbaik akan selalu pulang, jika kau tidak kunjung datang, barangkali kau memang ditakdirkan sebatas kisah yang hanya layak tersimpan sebagai kenang. -Boy Candra

Tak Mau Lagi

Setiap kali bertemu kamu lagi, aku selalu berpikir berkali-kali.  Semoga aku tidak jatuh hati lagi kepadamu.  Semoga tidak ada lagi perasaan rindu yang dulu membuatku susah tidur, tidak selera makan, dan sebagainya. Aku selalu menanamkan kepada diriku agar tidak mengulangi hal-hal yang dulu ada. Meyakinkan kepada hatiku bahwa semuanya memang sudah tiada.  Aku ingin terus melanjutkan langkahku.  Aku ingin terus berjalan setelah jauh menguburmu bersama ingatan.  Semua yang pernah ada biarlah tertinggal disana. Bagiku, saat ini cukup aku yang begini saja.

Move On

"Move On"  Hanya satu kata tapi harus aku lalui dengan ribuan bahkan jutaan cara  Apapun aku coba untuk mengusir kamu pergi dari kepala  Aku buang semua hal yang membangkitkan kenangan Aku hapus semua potretmu yang dulu aku banggakan Semua akses menujumu kublokir serempak saat itu Tapi perkara hati, ternyata tidak semudah itu aku atasi Aku masih gagal melupakan Yang aku rasa justru rindu yang semakin menggila Jika memang ingin pergi dariku, tidak bisakah kamu bawa semua hal tentang kamu? Andaikan bisa, mungkin aku sudah memilih amnesia  Sebab, tetap mengingat yang sengaja pergi itu berat.